Image

 

Virus budaya kontemporer Hallyu yang mengakibatkan “demam Korea” sudah menginfeksi Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir.

Ratusan judul drama, musik pop, serial, film, video game, hingga B-Boy berbau Korea diputar dan dipertontonkan di layar televisi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Hal itu mendorong lahirnya sebuah fenomena fanatisme di mana para pesohor dari negeri ginseng tersebut menjadi kiblat dalam berperilaku bagi remaja dan generasi muda di Tanah Air.

Tidak sedikit dari mereka yang rela melancong ke negeri yang berada di Semenanjung Asia Timur itu hanya untuk menonton konser artis idola dan berbelanja pernak-pernik berlabel “made in Korea”.

Menyebarnya budaya kontemporer Korea dalam tren “Korean Wave” bagi negeri asal Kimchi itu memang mendatangkan berkah tersendiri khususnya bagi total pendapatan negara yang sedang beranjak menyaingi Jepang sebagai salah satu macan Asia yang disegani.

Daya tarik yang dibangun dari basis kreativitas para pesohornya menjadikan negara itu memiliki potensi pendapatan baru khususnya dari sektor pariwisata hingga bisnis ikutannya.

Sampai detik ini Korea Selatan dengan empat musim yang menyelimutinya menjadi ambisi dan kiblat bagi jutaan pecintanya di Indonesia.

Namun sayangnya, Indonesia sendiri belum terlampau populer di negara yang beribu kota di Seoul itu ,bahkan nama Indonesia masih asing bagi lebih banyak masyarakat di Korea Selatan.

Mereka lebih mengenal Singapura atau Thailand ketimbang negara-negara di selatannya.

Itu sekaligus menunjukkan masih sedikit masyarakat Korsel yang mengenal Indonesia sebagai daerah kunjungan wisata.

Kesenjangan dalam barter pasar yang mendatangkan pendapatan negara masih belum seimbang diukur dari indikator popularitas nama negara di mana nama Korea lebih dikenal di Tanah Air ketimbang sebaliknya.